Jejak Ulama di Tanah Abang: Syekh Salim bin Sumair dan Karya Monumentalnya

 

RUJUKANMEDIA.com – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Tanah Abang, Jakarta, yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan pakaian dan tekstil terbesar di Asia Tenggara, tersembunyi sebuah tempat bersejarah yang mungkin tidak banyak diketahui oleh pengunjung.

Di sana terdapat Masjid Al-Makmur, tempat yang menjadi saksi bisu keberadaan makam seorang ulama besar yang karyanya masih dipelajari hingga kini di berbagai penjuru dunia Islam. Ulama tersebut adalah Syekh Salim bin Abdullah bin Said bin Sumair Al-Hadrami Asy-Syafi’i, lebih dikenal dengan nama Syekh Salim bin Sumair.

Syekh Salim bin Sumair adalah sosok yang tidak asing di kalangan santri dan ulama, terutama di Indonesia. Karyanya, kitab Safinatunnajah, menjadi rujukan utama di banyak pesantren untuk mempelajari teologi, ibadah, dan tata cara praktik keagamaan. Hampir seluruh pondok pesantren di Nusantara mengajarkan kitab ini, yang menandakan betapa pentingnya karya Syekh Salim dalam pendidikan agama Islam.

Syekh Salim lahir di Dzisybah, Yaman, dalam keluarga ulama. Ayahnya, Abdullah bin Said, merupakan tokoh yang sangat dihormati di kalangan masyarakat. Sejak kecil, Syekh Salim sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dalam mempelajari Al-Qur’an, hingga ia berhasil menyelesaikan pembelajaran kitab suci tersebut dalam waktu singkat dan memperoleh gelar Al-Mualim, gelar khusus bagi mereka yang ahli dalam mengajarkan Al-Qur’an.

Selain menguasai Al-Qur’an, Syekh Salim juga mempelajari berbagai disiplin ilmu lainnya seperti bahasa Arab, ushul fiqh, tasawuf, tafsir, dan bahkan taktik militer. Ilmu-ilmu ini ia peroleh dari ulama besar di Hadramaut, Yaman, yang kala itu menjadi pusat studi Islam.

Setelah menimba ilmu di sana, Syekh Salim mulai berdakwah di desanya, mengajarkan ilmu pengetahuannya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Berkat ketekunan dan kesabarannya, ia berhasil mencetak ulama-ulama besar yang kemudian menjadi pengajar Al-Qur’an yang mumpuni.

Baca Juga: Menggali Jejak Ilmu Ibnu Malik: Ulama Andalusia dan Karya Monumental Kitab Alfiah

Keberhasilan Syekh Salim dalam mendidik dan menyebarkan ilmu membuat namanya semakin dikenal. Ia pun dipercaya oleh Kerajaan Katsiriyyah di Yaman untuk melaksanakan tugas-tugas penting, seperti menyediakan peralatan militer tercanggih pada masanya. Untuk tugas ini, ia berkelana hingga ke Singapura dan India. Keberhasilan tersebut membuatnya diangkat sebagai staf ahli di kerajaan dan dipercaya untuk menjadi juru damai antar penguasa.

Namun, saat konflik berkepanjangan antara Kerajaan Al-Katsiriyyah dan Suku Yafi memuncak, Syekh Salim memainkan peran penting dalam mendamaikan kedua belah pihak. Setelah sukses menengahi konflik, Syekh Salim semakin dikenal dan dihormati, hingga diangkat menjadi penasihat khusus oleh Sultan Abdullah bin Mukhsin.

Sayangnya, ketika sang raja mulai mengabaikan nasihatnya, Syekh Salim memilih untuk mengundurkan diri dan kemudian hijrah ke India, sebelum akhirnya menetap di Batavia (sekarang Jakarta).

Di Batavia, Syekh Salim membangun komunitas dan majelis ilmu yang menarik banyak murid dari berbagai daerah di Nusantara. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas dan berpendirian kuat, terutama dalam menentang ulama yang dekat dengan pejabat kolonial Belanda. Ketegasannya terlihat ketika ia mengkritik Mufti Batavia, Said Usman bin Yahya, yang dianggap terlalu loyal kepada pemerintah kolonial.

Syekh Salim wafat pada tahun 1271 H (1855 M) di Batavia. Selama hidupnya, ia telah menulis beberapa kitab penting, termasuk Al-Qawaid Al-Jalilah dan Safinatunnajah, yang terus menjadi warisan berharga bagi umat Islam.


Hingga kini, Syekh Salim bin Sumair tidak hanya dikenal sebagai pengarang kitab, tetapi juga sebagai ulama yang gigih menyebarkan ilmu pengetahuan dan mendidik generasi penerus yang mampu mengajarkan ilmu agama dengan baik.

Makamnya di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang ulama besar yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Islam, khususnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan