RUJUKANMEDIA.com – Cinta adalah anugerah besar yang diberikan kepada setiap manusia, sebuah bentuk kasih yang bisa dirasakan dalam berbagai rupa. Namun, pernahkah kamu mendengar kisah tentang seorang wanita yang mencintai Allah dengan sepenuh hati, hingga cinta duniawi tak lagi menarik baginya? Dialah Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi terkenal dari Basra, Irak, yang hidup di abad ke-8 Masehi. Kisah hidupnya menjadi simbol cinta ilahi yang tulus dan tanpa pamrih.
Rabi’ah al-Adawiyah lahir sekitar tahun 717 M di Basra. Terlahir dari keluarga miskin, ia adalah anak keempat dari empat bersaudara. Hidupnya berubah drastis setelah kehilangan kedua orang tuanya di usia muda. Ia mengalami masa-masa sulit, diculik oleh bandit, dan dijual sebagai budak. Meski berada di bawah penderitaan, Rabi’ah tetap teguh dalam keimanannya, menjalani hari-harinya dengan ibadah yang penuh kekhusyukan.
Suatu malam, majikannya melihat Rabi’ah sedang berdoa dengan penuh keikhlasan. Yang membuat terkejut, tubuh Rabi’ah tampak bercahaya di tengah kegelapan malam. Tersentuh oleh ketulusan dan kedekatan Rabi’ah dengan Allah, sang majikan akhirnya memutuskan untuk membebaskannya dari perbudakan.
Baca Juga: Lubna, Mantan Budak yang Menjadi Sosok Cerdas dan Berpengaruh di Istana Cordoba
Setelah dimerdekakan, Rabi’ah memilih jalan hidup sebagai seorang zahidah, wanita yang menolak kemewahan duniawi. Ia meninggalkan kehidupan sosial untuk fokus sepenuhnya pada ibadah dan pengabdian kepada Allah. Bagi Rabi’ah, hidup adalah perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tanpa pamrih duniawi.
Rabi’ah al-Adawiyah terkenal dengan ajarannya tentang cinta ilahi yang murni. Ia percaya bahwa hubungan manusia dengan Allah seharusnya dibangun atas dasar cinta, bukan karena ingin masuk surga atau takut neraka. Dalam salah satu kisahnya, ketika malaikat bertanya, “Bagaimana jika kamu masuk neraka?” Rabi’ah menjawab, “Jika aku beribadah hanya karena ingin surga, maka itu bukan cinta sejati kepada Allah. Ibadahku semata-mata karena cinta kepada-Nya, bukan karena keinginan akan imbalan.”
Ajaran Rabi’ah menggarisbawahi bahwa ibadah sejati harus dilakukan dengan ketulusan yang mutlak, tanpa syarat, dan tidak terpengaruh oleh iming-iming surga atau ancaman neraka. Baginya, cinta kepada Allah adalah puncak dari segala pengabdian, dan inilah yang menginspirasi banyak orang hingga saat ini.
Hingga akhir hayatnya, Rabi’ah hidup dalam kesederhanaan dan kesendirian, menolak untuk menikah meskipun banyak tokoh sufi yang ingin meminangnya. Ia wafat sekitar tahun 801 M di Basra pada usia 90 tahun, dan dimakamkan di tempat kelahirannya.
Warisan spiritual Rabi’ah al-Adawiyah terus dikenang hingga kini, terutama dalam tradisi tasawuf. Namanya menjadi simbol cinta ilahi yang murni, yang mengajarkan kepada kita bahwa ibadah sejati adalah yang didasari oleh cinta tulus kepada Allah, bukan untuk mengharapkan surga atau menghindari neraka. Dari kisah hidupnya, kita belajar bahwa kesederhanaan, ketulusan, dan keteguhan iman adalah kunci dalam meraih cinta ilahi.







