RUJUKANMEDIA.com – Kekeringan di wilayah Kabupaten Bogor, terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 32 dari 40 kecamatan yang ada mengalami krisis air bersih.
“Ada 32 kecamatan dan 166 desa atau kelurahan yang terdampak kekeringan dengan mengakibatkan krisis air bersih,” ungkap Ketua Tim Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Andi Sumardi kepada wartawan, Selasa 1 September 2026.
Dari data yang tercatat sejak 10 Juni hingga 30 Agustus 2026 itu, tercatat di dalamnya sebanyak 268.869 orang mengalami krisis air bersih.
“Total warga terdampak ada 78.018 kepala keluarga (KK) atau 268.869 orang mengalami krisis air bersih,” jelas Andi.
Adapun titik kekeringan itu berada di wilayah Kecamatan Tenjo, Cigudeg, Ciseeng, Cibungbulang, Leuwiliang, Nanggung, Jasinga, Rumpin, Ciampea, Leuwisadeng, Sukajaya, Parungpanjang, Pamijahan, Kemang, Gunung Sindur, Dramaga, Parung.
Kemudian di wilayah Kecamatan Rancabungur, Cijeruk, Gunungputri, Cibinong, Cigombong, Cariu, Klapanunggal, Cisarua, Megamendung, Jonggol, Citeureup, Babakan Madang, Sukaraja, Tanjungsari, dan Sukamakmur.
Baca Juga : Kekeringan di Bogor Meluas, Sudah 1,2 Juta Liter Air Bersih Didistribusikan
Kata Andi, pihaknya rutin mendistribusikan air bersih untuk masyarakat terdampak kekeringan tersebut.
“Upaya kami sampai 30 Agustus telah mendistribusikan 4.017.000 liter air bersih ke 590 titik kekeringan,” ungkapnya.
Selain mendistribusikan pasokan air bersih ke sejumlah toren di tiap kecamatan, kata Andi, pihaknya pun juga telah melakukan pengeboran beberapa sumur di titik sumber air.
“Maka, kami menghimbau saat ini agar warga bisa menghemat penggunaan air di tengah kondisi kemarau,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memperpanjang status tanggap darurat kekeringan di wilayahnya imbas musim kemarau berkepanjangan.
Baca Juga : BMKG Prediksi Kemarau hingga Oktober, Tanggap Darurat Kekeringan di Kabupaten Bogor Diperpanjang
Ditandai dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Bogor, kebijakan itu dilakukan menanggapi prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dimana kemarau belum sampai pada puncaknya sejak Juni lalu.
“Kami melakukan perpanjangan kembali SK tanggap darurat kekeringan karena rilis dari BMKG itu tren puncak musim kemarau belum sampai titik puncak,” ujar Bupati Bogor Rudy Susmanto kepada wartawan.(*)


