RUJUKANMEDIA.com – Hadits, sebagai salah satu sumber hukum Islam setelah Alquran, merupakan kumpulan perkataan, perbuatan, atau persetujuan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Namun, pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana hadits-hadits tersebut tetap terjaga hingga saat ini? Salah satu tokoh yang berperan penting dalam melestarikan hadits adalah Imam Bukhari, seorang ulama besar yang dikenal karena keahliannya dalam ilmu hadits.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Imam Bukhari, yang nama aslinya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi, lahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 Hijriyah (810 Masehi) di kota Bukhara, Persia. Keturunannya berasal dari Persia, di mana kakeknya, Bardizbah, adalah seorang non-Muslim sebelum anaknya, Al-Mughirah, memeluk Islam melalui perantaraan seorang ulama bernama Yaman Al-Ma’jufi.
Sejak kecil, Imam Bukhari tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, adab, dan ibadah. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim, merupakan seorang ulama hadits yang berguru kepada Imam Malik bin Anas, Ahmad bin Zaid, dan Abdullah Mubarak. Meski ayahnya seorang ulama terkenal dan pebisnis yang kaya, ia sangat berhati-hati dalam menjaga harta dari hal-hal yang subhat atau haram. Namun, ayah Imam Bukhari meninggal ketika Bukhari masih kecil, sehingga ia dibesarkan oleh ibunya yang juga dikenal sangat taat beribadah.
Baca Juga: Biografi dan Sejarah Dinasti Abbasiyah: Masa Keemasan Islam
Perjuangan di Masa Kecil
Cobaan berat datang kepada keluarga kecil ini ketika Imam Bukhari mengalami kebutaan di usia belia. Sang ibu yang tak pernah putus berdoa kepada Allah, akhirnya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim, yang memberitahukan bahwa penglihatan putranya akan kembali. Doa sang ibu terkabul, dan Imam Bukhari kembali bisa melihat.
Dengan kegigihannya dalam menuntut ilmu, Imam Bukhari berhasil menghafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Pada usia 11 tahun, ia bahkan telah mampu menghafal hadits beserta sanadnya. Di saat teman-teman sebayanya bermain, Imam Bukhari memilih mengisi waktu dengan belajar dan menghafal hadits.
Perjalanan Ilmiah
Imam Bukhari memulai perjalanan ilmunya pada usia 16 tahun, saat ia menunaikan ibadah haji bersama ibu dan saudaranya. Setelah ibadah haji, ia memilih menetap di Mekah untuk memperdalam ilmu hadits dari para ulama terkenal, seperti Ahmad bin Al-Asyraqi dan Abdullah bin Zaid. Pada usia 18 tahun, ia menyelesaikan dua karya monumental, Qoto As-Sabat Tabi’in dan Athariq Al-Kafir, saat belajar di Madinah.
Selama hidupnya, Imam Bukhari dikenal sebagai seorang ulama yang berkelana ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu. Di usia muda, ia telah mengunjungi Basra, Kufah, Baghdad, Syam, dan Mesir. Dalam salah satu pernyataannya, Imam Bukhari mengatakan bahwa ia telah belajar hadits dari lebih dari 1.080 guru dan mempelajari lebih dari 600.000 hadits.
Baca Juga: Biografi Ibnu Sina: Bapak Kedokteran Modern dan Ilmuwan Islam
Pengabdian di Masa Tua
Di akhir hidupnya, Imam Bukhari menghadapi ujian besar ketika Khalid bin Ahmad Al-Zuhuni, Amir di Bukhara, memintanya untuk mengajar anak-anaknya dan membaca kitab-kitab hadits di hadapan sang Amir. Imam Bukhari menolak permintaan tersebut, karena menurutnya, ilmu harus didatangi, bukan mendatangi. Penolakan ini memicu konflik yang membuat Imam Bukhari difitnah dan akhirnya hijrah ke Samarkand.
Tak lama setelah hijrahnya, Imam Bukhari jatuh sakit. Pada malam Sabtu saat malam Idul Fitri, setelah shalat Isya, Imam Bukhari wafat. Ia dimakamkan di Samarkand pada tahun 256 Hijriyah (870 Masehi) dalam usia 62 tahun.
Imam Bukhari meninggalkan warisan besar bagi dunia Islam, yaitu kitab Shahih Bukhari, yang menjadi salah satu kitab hadits paling otoritatif hingga kini. Dedikasinya dalam mengumpulkan dan memverifikasi hadits telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ulama besar dalam sejarah Islam.







