Sepi Pengunjung, Rest Area Gunung Mas Puncak Bakal Didesain Ulang

 

RUJUKANMEDIA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor berencana mendesain ulang kios-kios yang ada di Rest Area Gunung Mas Puncak.

Langkah tersebut dilakukan karena banyaknya keluhan dari para pedagang yang usahanya tak berjalan baik. Sepi dari pengunjung hingga pendapatannya menurun drastis.

Direktur Utama (Dirut) PT Sayaga Wisata, Supriadi Jufri menyebut bahwa rencana desain ulang dilakukan berdasarkan analisis bersama Bappeda, konsultan, serta masukan para pedagang.

Baca Juga : Disdagin Sebut Pembangunan Pom Bensin Tak Mungkin Bisa Dilakukan di Rest Area Puncak 

Salah satu alasan utamanya, kata dia, adalah banyaknya kios yang tidak terjangkau oleh pengunjung karena lokasinya berjauhan.

“Kios-kios yang sulit dijangkau dan kurang terlihat akan kami desain ulang,” kata Supriadi kepada wartawan, Kamis 22 Mei 2025.

Dalam rencana desain ulang tersebut, lanjutnya, Pemkab Bogor juga berkeinginan untuk membongkar pagar yang membatasi rest area dengan kebun teh.

Baca Juga : Rest Area Gunung Mas Puncak Sepi, Pemkab Bogor Didesak Beri Solusi

Supriadi menilai bahwa pembatas itu menjadi salah satu penyebab sepinya pengunjung ke Rest Area Gunung Mas Puncak.

“Batas antara rest area dan kebun teh tak terlalu jelas karena pagar. Padahal, wisatawan ke Puncak itu ingin menikmati hijaunya kebun teh,” jelasnya.

Pemkab Bogor, PT Sayaga Wisata, dan PTPN 1 Regional 2 pun telah sepakat untuk membongkar pagar pembatas tersebut.

Baca Juga : Rest Area Gunung Mas Sepi Pengunjung, Pedagang Kembali Berjualan di Pinggir Jalan Puncak

Di sisi lain, Supriadi berharap para pedagang yang ada di kawasan seluas 8 hektare tersebut juga mau berinovasi dalam menjajakan dagangannya untuk menarik pengunjung.

“Hampir lima ratus pedagang yang dipindahkan nyaris semua berjualan mie rebus, kopi, dan nasi goreng. Ini jadi salah satu alasan kios-kios di rest area kurang diminati,” tuturnya.

Ia berharap dengan langkah-langkah ini, Rest Area Gunung Mas bisa lebih ramai dan para pedagang kembali mendapatkan penghasilan yang layak.

“Dari awal kami sudah banyak gelar kegiatan di rest area, tapi tetap tidak mampu mendongkrak kunjungan. Pedagang pun akhirnya tetap sepi,” pungkas Supriadi. (*)

Tinggalkan Balasan

TERKAIT LAINNYA