RUJUKANMEDIA.com – Mahasiswa IPB University melakukan mitigasi potensi food waste (sisa makanan) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan pemerintah.
Mitigasi itu dilakukan di dua sekolah dasar, yaitu SDN Sukamantri 03 Kabupaten Bogor dan SDN Cimahpar 03 Kota Bogor.
Ada lima mahasiswa yang melakukan kegiatan tersebut. Yakni Ikhda Annisa, Rida Nadia Salsa Bila, dan Cut Sarah Aulia Nanda (Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan), Yoviananto Putra Hadi (Ilmu Ekonomi Syariah), serta Muh Syabril Diandra (Aktuaria).
Ketua tim, Ikhda Annisa mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang sedang mereka ikuti bersama Dr Meti Ekayani sebagai dosen pm
“Kami menerapkan pendekatan nudge theory untuk mengurangi food waste di program MBG ini. Nudge theory merupakan teori perilaku yang memengaruhi seseorang secara halus tanpa menghilangkan kebiasaan atau rutinitasnya,” ujar Ikhda dalam keterangannya, Kamis 18 September 2025.
Baca Juga : Dilakukan Secara Kolaboratif, Pemkab Bogor Targetkan 500 Dapur MBG Terbangun hingga 2026
Ikhda membeberkan, ia dan tim melakukan pengukuran food waste selama delapan hari berturut-turut di kelas 3 SD dan melakukan wawancara dengan siswa untuk menyusun strategi mitigasi.
Dalam pelaksanaan program, tim memberikan dua model perlakuan. Pertama, menayangkan video edukasi yang mengajarkan pentingnya tidak menyisakan makanan. Kedua, membuat buku saku berisi poin pencapaian siswa dalam menghabiskan makanan, yang diapresiasi dengan stiker unik untuk memotivasi siswa.
“Pendekatan ini memiliki banyak peluang karena biayanya rendah dan menyenangkan untuk anak-anak. Mereka merasa diikutsertakan dan termotivasi untuk membentuk kebiasaan baik,” kata Ikhda.
Baca Juga : Bupati Sebut Dapur MBG di Bogor Tak Hanya Bermanfaat untuk Siswa, Tapi Kurangi Pengangguran
Meski demikian, ia mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain perubahan perilaku siswa yang membutuhkan waktu, perbedaan respons tiap anak, serta kebiasaan di rumah yang turut memengaruhi hasil. Selain itu, ia menekankan bahwa menjaga keberlanjutan program menjadi fokus utama, agar tidak berhenti hanya sebagai kegiatan sementara.
Keberhasilan program nantinya dapat diukur dari penurunan jumlah food waste, meningkatnya siswa yang menghabiskan makanan, serta respons positif dari siswa dan guru yang mampu mempertahankan kebiasaan baik tersebut.
“Pendekatan nudge theory ini diharapkan dapat mengurangi food waste dalam program MBG dan menjadi acuan kebijakan yang mendorong perubahan perilaku tanpa paksaan langsung,” pungkas Ikhda. (*)



