Sulhajji Jompa baru-baru ini mengguncang tubuh Golkar Kabupaten Bogor yang sudah terlihat tenang dan seperti tinggal menunggu pendaftaran Pilkada November 2024 mendatang. Kedatangan Fungsionaris DPP Golkar itu membuka tabir kepahitan untuk Bakal Calon Bupati Bogor Ade Ruhandi alias Jaro Ade yang sudah “Pede” untuk kembali maju menjadi Calon F1 di Bumi Tegar Beriman.
Oleh: Egi Abdul Mugni
RUJUKANMEDIA.com – Kedatangan Sulhajji Jompa yang “mendadak”, seketika membangunkan ketenangan Jaro Ade. Sulhajji hadir sebagai Bakal Calon Bupati Bogor di Bumi Tegar Beriman dan melamar ke sejumlah partai politik untuk mendapat tiket pencalonan.
Sulhajji juga mengumandang pesan kebalikan, membantah sosok Jaro Ade yang sudah lama di-branding menjadi calon Bupati satu-satunya (lagi) dari Partai Golkar. Sulhajji secara ketus menyampaikan bahwa belum ada rekomendasi yang sah dari DPP Golkar untuk Jaro Ade maju di Pilkada. Menurut Dia, DPP Golkar hanya mengeluarkan surat penugasan untuk Jaro Ade dalam memenangkan Pilres dan Pileg pada Februari lalu.
“Jadi partai itu mengeluarkan penugasan untuk bekerja dan Jaro Ade menerima beban itu, jadi bukan rekomendasi (Bupati Bogor),” kata Sulhajji kepada media Rabu 19 Juni 2024.
Ungkapan Sulhajji Jompa seketika menarik perhatian pewarta, pemberitaan kemudian menitikberatkan poin bahwa “Jaro Ade belum dapat rekom”. Benar saja, tidak sedikit media online baik nasional maupun lokal mengambil angle tersebut daripada kunjungan dan adu gagasan Sulhajji di salah satu lembaga diskusi, di Cibinong.
Terbilang wajar, karena sudut pandang berbeda tersebut menjadi informasi menarik dikonsumsi khalayak ramai di tengah landainya informasi soal kandidat kepala daerah di Bumi Tegar Beriman.
Makna Kunjungan ke Apriyadi Malik
Sulhajji Jompa, sebelum menghadiri undangan diskusi mengirimkan sebuah tulisan tentang dirinya yang berkunjung kepada Caleg DPR RI Dapil Kabupaten Bogor, Apriyadi Malik yang gagal dalam helatan Pileg Februari 2024 kemarin.
Apriyadi Malik bertarung disandingkan dengan Ravindra Airlangga yang merupakan anak Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartato. Meski Airlangga Hartato menargetkan dua kursi di Pileg tersebut, namun Apriyadi Malik tidak mampu mengejar angka kursi kedua setelah Ravindra Airlangga.
Keterlibatan Jaro Ade yang bertugas sebagai “Panglima Perang” Golkar untuk Pilpres dan Pileg, berdampak juga dalam kekalahan Apriyadi Malik.
Jaro Ade dikabarkan terlalu fokus pada pemenangan Ravindra Airlangga dan sedikit membantu Apriyadi Malik dalam Pileg kemarin. Bukan tanpa alasan, Jaro Ade melihat potensi “kasih sayang lebih” dari Airlangga Hartato jika anaknya menang di Pileg 2024 yang sebelumnya kalah pada pileg 2019.
Kondisi tersebut tentu secara tidak langsung membuat Apriyadi Malik “cemburu” karena dirinya harus bertatih-tatih sendiri untuk mendapatkan kursi kedua, yang akhirnya gagal juga.
Sulhajji Jompa ternyata cukup cerdik mengambil kesempatan dan peluang di Kabupaten Bogor dengan merangkul Apriyadi Malik untuk meraup bekal suara bekas Pileg untuk Pilkada mendatang dan mengobati “kesakitan” dia pada Jaro Ade. Apriyadi Malik bisa jadi alternatif pemberi suara di tengah Ravindra Airlangga yang sedang dalam “kungkungan” Jaro Ade.
Sulhajji mengklaim bahwa Apriyadi Malik menyambut positif Sulhajji Jompa untuk maju dalam kontestasi Pilkada 2024 di Bogor. Sulhajji mengklaim bahwa Apriyadi Malik siap berjuang menjadikan Sulhajji Jompa sebagai Bupati Bogor 2024-2029.
“Nanti kita lihat hasil survei nya, bisa di Bupati atau wakil Bupati, tapi intinya insyaallah saya siap berjuang mendukung,” kata dia.
Namun, saat dikonfirmasi, Apriyadi Malik belum memberikan respon apapun terhadap dukungan dirinya pada Sulhajji Jompa di Pilkada Kabupaten Bogor.
Koalisi Gerindra-Golkar Bakal Terjadi Jika Sulhajji
Takaran kemampuan partai dalam Pilkada selalu merujuk pada hasil kontestasi Pileg. Terlebih, Pileg dan Pilkada tahun ini dilakukan secara berdekatan, sehingga suara-suara bekas Pileg masih bisa dipergunakan untuk Pilkada.
Kondisi seperti ini membuat seluruh partai mengukur seberapa kuat dan lemah mereka dalam mengusung calon Bupati dari partainya sendiri atau koalisi ke mana di tengah sedikitnya kursi yang didapat.
Partai Gerindra menjadi pemenang di Pileg Kabupaten Bogor dengan raihan 12 kursi dari 55 kursi yang tersedia. Partai kedua yakni Golkar dengan raihan 7 kursi DPRD Kabupaten Bogor periode 2024-2029.
Aturan KPU, Gerindra bisa mengusung calon sendiri dengan kursi yang dimiliki. Sebab, KPU menetapkan bahwa partai boleh mengusung calonnya sendiri jika raihan kursi mencapai 20 persen dari total kursi yang ada atau 11 kursi dari 55 kursi DPRD Kabupaten Bogor.
Artinya, sangat tidak mungkin jika Gerindra tidak mencalonkan kadernya menjadi Bupati Bogor. Terlebih, dua nama calon Bupati Bogor dari Partai Gerindra sudah terpampang dimana-mana dengan elektabilitas dan popularitas yang cukup keduanya. Pertama Rudy Susmanto sebagai ketua DPRD Kabupaten Bogor yang juga Wasekjen DPP partai Gerindra dan mantan Bupati Bogor Iwan Setiawan yang juga ketua DPC Gerindra Kabupaten Bogor.
Rudy Susmanto menegaskan akan bersedia maju di Pilkada menjadi F1 jika diperintahkan Prabowo Subianto. Sementara Iwan Setiawan agak muskil jika dijadikan F2 mendampingi Calon Bupati Bogor Jaro Ade. Sehingga, sangat kecil kemungkinan jika Gerindra menjadi F2 di Pilkada 2024.
Sementara partai Golkar tidak bisa mencalonkan kadernya sendiri dengan perolehan kursi DPRD Kabupaten Bogor yang dimiliki. Golkar harus mencari koalisi partai lain untuk bisa mengusung calon Bupati Bogor dari partainya. Namun, hingga saat ini, hanya PAN yang cuma empat kursi yang sudah mendeklarasikan diri mendukung Jaro Ade menjadi Bupati Bogor.
Partai Gerindra dan Golkar jika berkoalisi di Pilkada Kabupaten Bogor, tentu sangat kecil kekalahan yang akan terjadi. Namun, sudikah Jaro Ade menjadi F2 dengan pengalaman beberapa kali gagal menjadi F1 di Pilkada?.
Jaro Ade sangat kecil kemungkinan ingin berkoalisi dengan Gerindra jika menjadi F2. Sebab, keikutsertaan menjadi Calon F1 di Bumi Tegar Beriman pada periode sebelumnya, merepresentasikan bahwa Jaro Ade masih berhasrat tinggi untuk menjadi kepala daerah di Kabupaten Bogor. Terlebih lawan politik Pilkada sebelumnya, Ade Yasin dipastikan tidak ikut kontestasi tahun ini.
Sulhajji Jompa bisa jadi alternatif jika Golkar ingin tetap masuk dan aman dalam eksekutif di tengah ancaman kursi gemuk partai Gerindra. Sulhajji bahwa legowo jika DPP Golkar hanya memberikan rekomendasi untuk menjadi Calon Wakil Bupati Bogor.
“Nanti kita lihat hasil surveinya, bisa di Bupati atau Wakil Bupati,” kata Sulhajji.
Sulhajji, Wawan Haikal Kurdi, maupun kader Golkar lainnya bisa menjadi alternatif atau antisipasi kekalahan Lose Strake partai Golkar untuk ketiga kalinya di Pilkada Kabupaten Bogor.





