RUJUKANMEDIA.com – Belum genap sebulan duduk di kursi empuk legislatif, seorang anggota DPRD yang baru dilantik sudah merasa kepalanya lebih pusing dari sebelum kampanye.
Awalnya ia pikir setelah dilantik, segalanya akan terasa lebih mudah. Tapi ternyata, salah satu “souvenir” pertamanya sebagai anggota dewan bukanlah plakat penghargaan atau foto kenangan, melainkan asbak berbahan keramik dengan logo bank pemerintah.
Asbak ini istimewa bukan karena karena bahan dan bentuk, melainkan karena ia menjadi penanda pinjaman yang ditariknya—tentu saja dengan jaminan SK keanggotaan dewan yang baru saja diterima.
” “Ya, beginilah nasib. Baru saja dilantik, saya sudah punya cicilan,” kata dia sambil tersenyum kecut.
Uang dari pinjaman tersebut, yang pada awalnya terasa seperti angin segar, kini sudah ludes hanya untuk menutupi hutang-hutang kampanye. Namun, masalah baru mulai datang bergelombang ketika tumpukan amplop dan proposal dari konstituen mulai menggunung di meja kerjanya.
Ada yang datang dengan permohonan pekerjaan, ada pula yang membawa proposal kegiatan bakti sosial. “Pak Dewan, ini proposal untuk acara mauludan. Bantu dong, biar semangat warga tetap terjaga,” ujar salah satu konstituen sambil menyerahkan proposal tebal berisi rincian kebutuhan lomba baca rawi dan segala tetek-bengeknya.
Tak lupa, mereka menekankan pentingnya hadiah yang “layak” untuk menarik minat peserta.
Sang legislator hanya bisa menghela napas panjang. “Kalau semua yang datang saya turuti, saya bisa pinjam lagi, kali ini mungkin bukan dari bank tapi dari tetangga,” katanya bercanda.
Namun di balik candaannya, jelas terpancar kepanikan. Ternyata, menjadi anggota dewan tak hanya soal rapat dan bicara di depan mikrofon, tapi juga tentang menjawab ekspektasi konstituen—dengan dompet yang semakin tipis.
Saat ini, sang dewan masih berpikir keras. Bagaimana caranya memenuhi permintaan dari konstituennya tanpa harus menggadaikan masa depannya lebih dalam lagi ke bank? Mungkin, kata dia, solusinya adalah menulis proposal lain—kali ini, proposal pinjaman lagi.






