Pembentukan koalisi partai pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Bogor nampak sudah mulai tergambarkan baik secara interaksionisme simbolik maupun secara langsung diungkapkan di khalayak ramai dengan terang benderang.
Oleh : Egi Abdul Mugni
RUJUKANMEDIA.com – Koalisi partai pada kontestasi pemilihan kepala daerah tingkat kota/kabupaten, tidak hanya sebatas upaya pemenuhan syarat minimal dukungan dari DPRD terhadap salah satu calon kepala daerah, tapi juga sering dimaknai hal lain salah satunya pembagian “jatah”
Sebab, berdasarkan aturan KPU, partai atau gabungan partai politik yang akan mengusung pasangan calon maju pada kontestasi diharuskan memenuhi syarat dukungan minimal 20 persen atau 11 kursi DPRD untuk Pilkada Kabupaten Bogor. Artinya, partai yang tidak memiliki jumlah kursi minimal yang ditetapkan, diharuskan berkolisi dengan partai lainnya jika ingin mengusung seorang Calon Bupati Bogor, sepasang dengan Calon Wakil Bupati nya
Pembentukan koalisi partai pada kontestasi Pilkada Kabupaten/kota selalu berbarengan dengan pembagian jabatan di eksekutif. Tidak jarang, koalisi partai dibentuk berdasarkan kesepakatan dan kesepahaman politik atau pembagian “kue jabatan” terlebih dahulu, daripada memikirkan masa depan rakyat.
Selain itu, pembentukan koalisi diukur berdasarkan sosok yang ada di partai tersebut. Politisi yang memiliki jejak politik yang menguntungkan, akan menjadi nilai tambah meski tidak memiliki kursi yang banyak.
Misal, PPP memiliki kader potensial yakni Elly Yasin yang merupakan istri mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin. Elly Yasin akan menjadi perhitungan meski PPP hanya meraih 6 kursi di Pileg kemarin.
Sebab, kekuatan Rachmat Yasin dinilai masih ada meski berulang kali masuk jeruji. Buktinya, Ade Yasin yang merupakan adik Rachmat Yasin, bisa berhasil di Pilkada 2018 meski akhirnya masuk jeruji juga.
Artinya, PPP masih layak masuk radar potensial dalam menetukan koalisi karena ada sosok politisi ulung di dalamnya.
Baca Juga: Klaim Rekomendasi Sudah Final, Jaro Ade Diusik Sulhajji Jompa Soal Dukungan Golkar di Pilbup Bogor
Tiga Poros Koalisi Pilkada Bumi Tegar Beriman
Golkar dengan Ade Ruhandi alias Jaro Ade hampir bisa dipastikan menjadi salah satu pertarung atau calon Bupati di Pilkada Kabupaten Bogor. Bahkan DPP Golkar sudah menentukan nama Jaro Ade sebagai satu-satunya Calon Bupati Bogor dari Partai pohon beringin dengan memberi surat tugas.
Wakil Sekertaris Jendral (Wasekjen) DPP Partai Golkar, Samsul Hidayat mengaku, Golkar tinggal mencari partai tambahan yang ingin berkoalisi di Pilkada. Sebab, saat ini koalisi Golkar, PAN dan Demokrat sudah bisa mengusung Jaro Ade menjadi Bupati Bogor. Golkar punya 7 kursi, PAN 2 kursi dan ditambah Demokrat 6 kursi total jadi 15 jumlahnya.
Kepastian Jaro Ade jadi Calon Bupati Bogor dipastikan Samsul Hidayat dengan agenda pemilihan Calon Wakil Bupati dari partai koalisi yang akan dilangsungkan Juli mendatang
“Juli, masuk pada tahapan menentukan wakil dari koalisi, koalisi itu silahkan menggodog wakil untuk mendaftarkan di Bulan Agustus,” kata dia.
Baca Juga: PKS Berpotensi Jadi Poros Partai Islam di Pilkada, Pengamat : Agus Salim Bisa Gaet PPP dan PKB
Koalisi kedua dimungkinkan muncul sebagai “Koalisi Partai Islam” yakni PKS, PPP, dan PKB. Meski belum terbentuk dan tersampaikan di khalayak publik, namun pengamat Politik Universitas Djuanda, Gotfridus Goris Seran mengamati bahwa Koalisi tersebut bisa menguntungkan.
“Bacaan saya, justeru keputusan politik PKS akan mengubah peta pertarungan selama ini. Akan terbentuk poros baru yang mengagregasi partai-partai Islam: PPP, PKS, dan PKB,” jelas dia.
PPP, kata dia, sangat mungkin mampu menjadi mesin utama dalam mengakomodir kekuatan dua partai Islam lainnya. Ditambah, jejak ketokohan keluarga besar Rachmat Yasin di Pilkada secara berturut-turut.
“PPP akan menggerakkan kekuatan ini.Sehingga tampil duet Elly Yasin-Agus Salim,” jelas dia.
Jika itu terjadi, maka PPP dan PKB dengan masing-masing enam kursi dan PKS tujuh kursi, bisa mengusung calon dan wakil Bupati Bogor untuk Pilkada dengan “Koalisi Partai Islam” . Sebab “Koalisi Partai Islam” itu bisa melebihi syarat karena memiliki kursi 19 dari syarat minimal 11 kursi.
Menurut penulis, “Koalisi Partai Islam” itu juga akan cukup menguntungkan karena masyarakat Kabupaten Bogor yang agamis. Selain itu, gaya politik PPP yang menang Pilkada berturut-turut kemarin, tidak sedikit dilakukan dengan pendekatan yang agamis dengan para tokoh agama.
Jika dua koalisi rampung, koalisi Jaro Ade (Demokrat, Golkar, PAN) dengan 15 kursi dan “Koalisi Partai Islam” dengan 19 kursi. Maka, sisanya, tinggal dua partai yang belum terlihat kecenderungan keberpihakan mereka yakni PDIP (5) kursi dan NasDem (4) kursi.
Baca Juga:Gerindra Beberkan Kemungkinan Keluar dari KIM usai Demokrat Lebih Dukung Jaro Ade di Pilkada
Koalisi ketiga yakni koalisi partai Gerindra. Partai Gerindra baru-baru ini secara simbolik sudah menegaskan bahwa tidak ada perpecahan antara “Dua matahari” Rudy Susmanto dan Iwan Setiawan yang sama-sama ingin maju di Pilkada Kabupaten Bogor.
Kedua kader partai Prabowo itu masing-masing memiliki kelayakan yang cukup untuk maju di Pilkada dengan pengalaman mereka di pemerintahan. Pembentukan kesepahaman dua kader itu, akan semakin memperkuat Gerindra untuk memenangkan Pilkada di Bumi Tegar Beriman.
Terlebih, Gerindra memiliki kursi 12 di DPRD Kabupaten Bogor. Artinya, Gerindra bisa mengusung calon sendiri tanpa harus ada kesepakatan-kesepakatan dengan partai lain.
Baca Juga: Ditolak KPU Diterima Bawaslu, Gunawan Hasan-Rudi “Dipingpong” Penyelenggara Pilkada
Calon Wakil Bupati Gerindra Menentukan
Gerindra sangat diuntungkan di Pilkada Kabupaten Bogor. Sebab, menjadi satu-satunya partai yang bisa mengusung calon Bupati tanpa perlu berkoalisi dengan partai lain.
Kesempatan itu menjadi nilai plus partai Gerindra dalam memilih Wakil Bupati Bogor yang bisa mendongkarak suara dengan instrumen di luar politisi antar partai; bisa dari akademisi, aktivis, maupun birokrat.
Kekurangan akademisi dan aktivis potensial di Bumi Tegar Beriman, akan membuat partai Gerindra memilih alternatif lain untuk posisi F2.
Baru-baru ini, Gerindra dikabarkan ingin mengaet seorang mantan birokrat Burhanudin yang dikenal sebagai “Bapak ASN” yang terkenal dekat dengan seluruh tingkatan ASN baik di Kabupaten Bogor maupun di penjuru Kecamatan.
Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor itu dikabarkan bakal menjadi pasangan calon dari Gerindra karena pemahamannya soal birkorasi dari tingkat Desa hingga Kabupaten Bogor.
Calon Gerindra itu yakni Rudy Susmanto. Kedekatan Rudy Susmanto dengan Burhanudin memang sudah tidak lagi diragukan. Burhanudin menjelang berakhir menjadi Sekda, terpantau sering menghadap Rudy Susmanto, entah untuk memaparkan tugasnya ataupun kebutuhan lain.
Pengamat Politik, Gotfridus Goris Seran menyampaikan bahwa jika isu Rudy-Burhanudin itu memang terjadi. Ia melihat, Rudy ingin menggabungkan kapasitas politik yang dimilikinya dengan kematangan birokrasi yang dimiliki Burhanudin.
“Keinginan Rudy Susmanto menggabungkan kapasitas politik yang dimiliki Rudy Susmanto dengan kapasitas birokrasi yang dipunyai Burhannudin,” jelas dia.






