RUJUKANMEDIA.com – Kelanjutan pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Parung, Kabupaten Bogor semakin tak jelas usai Pemda tidak memasukkan proyek tersebut ke dalam prioritas.
Kepala Bappedalitbang Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika menjelaskan, kondisi itu terjadi lantaran Bantuan Provinsi (Banprov) Jawa Barat yang diterima Pemkab menurun dan tak sesuai harapan.
“Banprov itu keseluruhan ada Rp106 miliar, kategorinya lumayan turun tapi gak terlalu besar,” ungkap Ajat kepada wartawan, Rabu 28 Februari 2024.
Baca Juga : Sudah Penyidikan, Kejari Tak Kunjung Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Proyek RSUD Parung
Ajat menyebut penurunan Banprov itu berkisar ratusan juta. Meski begitu, dia menganggap bantuan tersebut masih sangat kurang, karena masih banyak program kerja yang harus direalisasikan. Salah satunya RSUD Parung tersebut.
“Turunnya gak sampai 200 juta masih di angka 100 juta. Tapi ya kurang, karena kebutuhan kita banyak seperti RSUD Parung. Itu kan kita butuh Rp209 miliar tapi kan gak dapat. Makannya kita geser ke tahun lain,” jelas Ajat.
Baca Juga : Tak Mau Tahu, Gubernur Emil Minta Pemkab Bogor Laporkan Evaluasi RSUD Parung
Diketahui, karena tak adanya anggaran untuk membangun, Pemkab Bogor sementara hanya menjadikan RSUD Parung sebagai Klinik Utama.
Klinik itu sendiri merupakan langkah awal Pemkab Bogor sebelum mengoperasikan RSUD Parung yang belum selesai secara total.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, Mike Kaltarina sebelumnya mengatakan, pihaknya akan terus berupaya untuk mempercepat pengembangan RSUD Parung yang saat ini hanya sebatas klinik itu.
Salah satu adalah memaksimalkan jumlah dokter spesialis agar pelayanan masyarakat bisa maksimal.
“Kami merekrut spesialis bedah, penyakit dalam, anak, dan kebidanan. Sebenernya sudah cukup, tapi saya maunya dua dokter agar bisa membackup. Saya berharap ada dokter mata, dokter syaraf nanti,” katanya beberapa waktu lalu.
Dia pun tak menampik untuk saat ini masih banyak kekurangan. Namun, Mike memastikan hal itu menjadi bahan evaluasi untuk ke depannya.
“Memang belum sempurna karena butuh banyak sekali asesmen yang perlu kami wujudkan, karena untuk menjadi rumah sakit itu bukan hal gampang, bagaimana kita mencari pendanaan, pendampingan,” jelasnya.(*)







