RUJUKANMEDIA.com – Setiap negara memiliki bahasa dan cara penggunaannya yang unik, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Jepang, dan lain-lain. Oleh karena itu, di setiap negara, pelajaran bahasa merupakan mata pelajaran yang sangat penting. Bahasa Arab, misalnya, memiliki aturan penggunaan dan pelafalan tersendiri, yang diajarkan melalui ilmu nahwu dan shorof.
Ilmu nahwu mempelajari tata bahasa, sedangkan ilmu shorof adalah cabang dari ilmu bahasa Arab yang mengkaji perubahan bentuk kata dan struktur bahasa sesuai dengan maknanya.
Sobat Rujukan Media, kalian pasti pernah mendengar tentang Kitab Jurmiyah, salah satu kitab yang sangat terkenal dalam kajian tata bahasa Arab. Kitab ini masih dipelajari hingga sekarang, khususnya di kalangan umat Muslim.
Namun, tahukah kalian siapa pengarang di balik kitab yang legendaris ini? Yuk, kita kenali lebih dekat sosok Ibnu Ajurrum, pengarang Kitab Jurmiyah.
Baca Juga: Kisah Karomah Syaikh Ahmad al-Marzuki, Pengarang Kitab Aqidatul Awwam
Ibnu Ajurrum memiliki nama asli Muhammad bin Muhammad bin Daud (Abu Abdillah) as-Shinhaji. Nama “Ajurrum” yang melekat padanya sebenarnya berasal dari nama kakeknya, sehingga beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Ajurrum. Ibnu Ajurrum lahir pada tahun 672 H (1273 M) di kota Fez, Maroko, yang merupakan salah satu kota terbesar di negara tersebut. Menariknya, tahun kelahiran Ibnu Ajurrum ini bertepatan dengan tahun wafatnya Ibnu Malik, seorang ulama besar pengarang Al-Fiyah.
Kata “Ajurrum” sendiri berasal dari bahasa Berber, yang digunakan oleh suku Barbar. Selain dikenal sebagai seorang ulama, Ibnu Ajurrum juga dikenal dengan gelar “al-Faqir al-Shufi”, yang mencerminkan kepribadiannya yang bersahaja dan sederhana.
Sejak kecil, Ibnu Ajurrum sudah menimba ilmu keislaman dasar dari para ulama di daerahnya, termasuk ilmu qiraat, tafsir, ilmu kalam, dan gramatika bahasa Arab. Kecintaannya pada ilmu membawa Ibnu Ajurrum ke Kairo, Mesir, dengan niat menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmunya.
Di Kairo, Ibnu Ajurrum belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, termasuk Abu Hayyan, seorang pakar nahwu asal Spanyol. Dari Abu Hayyan inilah, Ibnu Ajurrum mendapatkan pengakuan keilmuan atau ijazah dalam bidang gramatika bahasa Arab.
Setelah merasa cukup dengan ilmu yang diperolehnya di Mesir, Ibnu Ajurrum melanjutkan perjalanannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Di Mekah, beliau berinteraksi dengan ulama-ulama Haramain dan mulai menulis karya yang kelak menjadi kitab terkenal, Kitab Jurmiyah.
Kitab Jurmiyah sendiri memiliki cerita menarik terkait proses penulisannya. Konon, Ibnu Ajurrum selalu memilih tempat yang tinggi saat menulis kitab ini. Namun, setiap kali ia menulis di tempat tinggi, angin sering kali menerbangkan lembaran-lembaran catatannya.Hal ini membuatnya sangat sedih, dan ia pun berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jika aku menulis ini dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha-Mu, tolonglah aku, kembalikanlah lembaran catatanku yang diterbangkan angin.” Doanya pun terkabul, dan lembaran-lembaran catatannya kembali ke tangannya.
Setelah selesai menulis Kitab Jurmiyah, Ibnu Ajurrum menguji keikhlasannya dengan membawa kitab tersebut ke laut dan melemparkannya ke air, sambil berdoa, “Ya Allah, jika aku menulis ini semata-mata untuk mencari ridha-Mu, maka lembaran-lembaran ini tidak akan basah oleh air.” Doa tersebut kembali dijawab oleh Allah, dan lembaran-lembaran kitab itu tetap utuh, tidak basah sedikit pun.
Ibnu Ajurrum meninggal dunia pada bulan Safar tahun 723 H di kota Fez, Maroko, dan dimakamkan di pemakaman Babul Jadid. Hingga kini, karyanya yang berjudul Kitab Jurmiyah masih menjadi rujukan utama dalam mempelajari tata bahasa Arab di berbagai belahan dunia.







